
oleh : fuat fahrudin
Penyimpanan benih.
Perlakuan yang terbaik pada benih ialah menanam benih atau disemaikan segera setelah benih-benih itu dikumpulkan atau dipanen, jadi mengikuti cara-cara alamiah, namun hal ini tidak selalu mungkin karena musim berbuah tidak selalu sama, untuk itu penyimpanan benih perlu dilakukan untuk menjamin ketersediaan benih saat musim tanam tiba.
Tujuan penyimpanan
- menjaga biji agar tetap dalam keadaan baik (daya kecambah tetap tinggi)
- melindungi biji dari serangan hama dan jamur.
- mencukupi persediaan biji selama musim berbuah tidak dapat mencukupi kebutuhan.
Ada dua faktor yang penting selama penyimpanan benih yaitu, suhu dan kelembaban udara. Umumnya benih dapat dipertahankan tetap baik dalam jangka waktu yang cukup lama, bila suhu dan kelembaban udara dapat dijaga maka mutu benih dapat terjaga. Untuk itu perlu runag khusus untuk penyimpanan benih.
Untuk benih ortodoks
Benih ortodoks dapat disimpan lama pada kadar air 6-10% atau dibawahnya. Penyimpanan dapat dilakukan dengan menggunakan wadah seperti : karung kain, toples kaca/ plastik, plastik, laleng, dll. Setelah itu benih dapat di simpan pada suhu kamar atau pada temperature rendah “cold storage” umumnya pada suhu 2-5oC.
Untuk benih rekalsitran
Benih rekalsitran mempunyai kadar air tinggi, untuk itu dalam penyimpanan kadar air benih perlu dipertahankan selama penyimpanan. Penyimpanan dapat menggunakan serbuk gergaji atau serbuk arang. Caranya yaitu dengan memasukkan benih kedalam serbuk gergaji atau arang.
Teknik Perkecambahan
Selama penyimpanan benih-benih dalam keadaan dormansi (tidur) dan perlu dilakukan perlakuan sebelum di kecambahkan. Benih dikatakan dormansi apabila benih itu sebenarnya hidup (viable) tetapi tidak berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan lingkungan yang memenuhi syarat bagi perkecambahan dan periode dormansi ini dapat berlangsung semusim atau tahunan tergantung pada tipe dormansinya. Ada beberapa tipe dari dormansi dan kadang-kadang lebih dari satu tipe terjadi didalam benih yang sama. Di alam, dormansi dipatahkan secara perlahan-lahan atau disuatu kejadian lingkungan yang khas. Tipe dari kejadian lingkungan yang dapat mematahkan dormansi tergantung pada tipe dormansi.
Benih yang dorman dapat menguntungkan atau merugikan dalam penanganan benih. Keuntungannya benih yang dorman adalah dapat mencegah agar tidak berkecambah selama penyimpanan. Sesungguhnya benih-benih yang tidak dorman seperti benih rekalsitran sangat sulit untuk ditangani, karena perkecambahan dapat terjadi selama pengangkutan atau penyimpanan sementara. Di suatu sisi, apabila dormansi sangat kompleks dan benih membutuhkan perlakuan awal yang khusus, kegagalan untuk mengatasai masalah ini dapat bersifat kegagalan perkecambahan.
Tipe Dormansi
Ada beberapa tipe dormansi, yaitu dormansi Fisik dan dormansi Fisiologis.
Dormansi Fisik
Pada tipe dormansi ini yang menyebabkan pembatas struktural terhadap perkecambahan adalah kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas pada berbagai jenis tanaman. Yang termasuk dormansi fisik adalah:
a. Impermeabilitas kulit biji terhadap air
Benih-benih yang menunjukkan tipe dormansi ini disebut benih keras contohnya seperti pada famili Leguminoceae, disini pengambilan air terhalang kulit biji yang mempunyai struktur terdiri dari lapisan sel-sel berupa palisade yang berdinding tebal, terutama dipermukaan paling luar dan bagian dalamnya mempunyai lapisan lilin. Di alam selain pergantian suhu tinggi dan rendah dapat menyebabkan benih retak akibat pengembangan dan pengkerutan, juga kegiatan dari bakteri dan cendawan dapat membantu memperpendek masa dormansi benih.
b. Resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio
Pada tipe dormansi ini, beberapa jenis benih tetap berada dalam keadaan dorman disebabkan kulit biji yang cukup kuat untuk menghalangi pertumbuhan embrio. Jika kulit ini dihilangkan maka embrio akan tumbuh dengan segera. Tipe dormansi ini juga umumnya dijumpai pada beberapa genera tropis seperti Pterocarpus, Terminalia, Eucalyptus, dll ( Doran, 1997). Pada tipe dormansi ini juga didapati tipe kulit biji yang biasa dilalui oleh air dan oksigen, tetapi perkembangan embrio terhalang oleh kekuatan mekanis dari kulit biji tersebut. Hambatan mekanis terhadap pertumbuhan embrio dapat diatasi dengan dua cara mengekstrasi benih dari pericarp atau kulit biji.
c. Adanya zat penghambat
Sejumlah jenis mengandung zat-zat penghambat dalam buah atau benih yang mencegah perkecambahan. Zat penghambat yang paling sering dijumpai ditemukan dalam daging buah. Untuk itu benih tersebut harus diekstrasi dan dicuci untuk menghilangkan zat-zat penghambat.
Dormansi fisiologis (embrio)
Penyebabnya adalah embrio yang belum sempurna pertumbuhannya atau belum matang. Benih-benih demikian memerlukan jangka waktu tertentu agar dapat berkecambah (penyimpanan). Jangka waktu penyimpanan ini berbeda-beda dari kurun waktu beberapa hari sampai beberapa tahun tergantung jenis benih. Benih-benih ini biasanya ditempatkan pada kondisi temperatur dan kelembaban tertentu agar viabilitasnya tetap terjaga sampai embrio terbentuk sempurna dan dapat berkecambah (Schmidt, 2002).
Perlakuan Awal Dormansi Fisik
Kebanyakan jenis dari famili leguminosae menunjukkan dormansi fisik, yang disebabkan oleh struktur morfologis dari kulit biji yang rumit. Kondisi kedap air kulit biji legum relatif dalam arti bahwa bermacam-macam jenis, bermacam-macam tingkatan kemasakan dan bermacam-macam individu menunjukkan tingkat ketahanan terhadap penyerapan air (imbibisi) yang berbeda. Bebagai macam metode telah dikembangkan untuk mengatasi tipe dormansi ini, semua metode menggunakan perinsip yang sama yakni bagaimana caranya agar air dapat masuk dan penyerapan dapat berlangsung pada benih.Teknik skarifikasi pada berbagai jenis benih harus disesuaikan dengan tingkat dormansi fisik. Berbagai teknik untuk mematahkan dormansi fisik antara lain seperti:
a. Perlakuan mekanis (skarifikasi)
Perlakuan mekanis (skarifikasi) pada kulit biji, dilakukan dengan cara penusukan, pengoresan, pemecahan, pengikiran atau pembakaran, dengan bantuan pisau, jarum, kikir, kertas gosok, atau lainnya adalah cara yang paling efektif untuk mengatasi dormansi fisik. Karena setiap benih ditangani secara manual, dapat diberikan perlakuan individu sesuai dengan ketebalan biji. Pada hakekatnya semua benih dibuat permeabel dengan resiko kerusakan yang kecil, asal daerah radikel tidak rusak (Schmidt, 2002). Seluruh permukaan kulit biji dapat dijadikan titik penyerapan air. Pada benih legum, lapisan sel palisade dari kulit biji menyerap air dan proses pelunakan menyebar dari titik ini keseluruh permukan kulit biji dalam beberapa jam. Pada saat yang sama embrio menyerap air. Skarifikasi manual efektif pada seluruh permukaan kulit biji, tetapi daerah microphylar dimana terdapat radicle, harus dihindari. Kerusakan pada daerah ini dapat merusak benih, sedangkan kerusakan pada kotiledon tidak akan mempengaruhi perkecambahan.
b. Air Panas
Air panas mematahkan dormansi fisik pada leguminosae melalui tegangan yang menyebabkan pecahnya lapisan macrosclereids. Metode ini paling efektif bila benih direndam dengan air panas. Pencelupan sesaat juga lebih baik untuk mencegah kerusakan pada embrio karena bila perendaman paling lama, panas yang diteruskan kedalam embrio sehingga dapat menyebabkan kerusakan. Suhu tinggi dapat merusak benih dengan kulit tipis, jadi kepekaan terhadap suhu berfariasi tiap jenis. Umumnya benih kering yang masak atau kulit bijinya relatif tebal toleran terhadap perendaman sesaat dalam air mendidih.
c. Perlakuan kimia
Perlakuan kimia dengan bahan-bahan kimia sering dilakukan untuk memecahkan dormansi pada benih. Tujuan utamanya adalah menjadikan agar kulit biji lebih mudah dimasuki oleh air pada waktu proses imbibisi. Larutan asam kuat seperti asam sulfat dengan konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lunak sehingga dapat dilalui air dengan mudah. Larutan asam untuk perlakuan ini adalah asam sulfat pekat (H2SO4), asam ini menyebabkan kerusakan pada kulit biji dan dapat diterapkan pada legum maupun non legume (Coppeland, 1980). Tetapi metode ini tidak sesuai untuk benih yang mudah sekali menjadi permeable, karena asam akan merusak embrio. Lamanya perlakuan larutan asam harus memperhatikan 2 hal, yaitu:
1). kulit biji atau pericarp yang dapat diretakkan untuk memungkinkan imbibisi
2). larutan asam tidak mengenai embrio.
Sumber :
Sahupala, A.2007. Teknologi Benih. Dalam Pelatihan Penanaman Hutan di Maluku & Maluku Utara – Ambon, 12 – 13 Desember 2007. Universitas Pattimura.
Pendapat penulis tentang makalah diatas:
Benih merupakan hal yang sangat penting untuk kegiatan bercocok tanam. Dalam perkembangan selanjutnya benih terjadi pergeseran makna dimana benih merupakan biji yang digunakan sebagai bahan tanam (pengertian dulu). Namun, sekarang pengertian benih semakin meluas yaitu bagian tanaman atau tanaman yang digunakan sebagai bahan tanam. Dulu biji disebut benih, sekarang selain biji itu sendiri termasuk benih adalah hasil okulasi, hasil stek dan hasil perkembangbiakan vegetatif (klon).
Untuk mendapatkan benih sesuai dengan yang diinginkan sebagai bahan tanam, perlu dilakukan usaha agar benih yang akan ditanam hasilnya tidak mengecewakan (produksinya baik). Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah penyimpanan benih. Penyimpanan biasanya dilakukan pada benih-benih yang mengalami dormansi dan kadar air benih rendah. Benih ini disebut benih ortodoks. Sebagai contoh adalah benih melinjo, benih tomat, cabai dan sebagainya. Benih ini dapat disimpan dalam waktu yang cukup lama atau sesuai dengan kebutuhan.
Tujuan dilakukan penyimpanan adalah untuk menjaga benih agar tetap baik, melindungi benih dari hama dan penyakit, dan untuk mencukupi kebutuhan benih ketika berbeda musim tanam. Dengan adanya penyimpanan benih, benih akan berada tetap pada kondisi yang meungkinkan tidak dapat tumbuh namun tetap mengalami metabolisme. Dengan penyimpanan benih, tingkat perkecambahan benih cukup tinggi sekitar 80% – 90%. Kemampuan kecambah dengan prosentase diatas sudah sangat baik, sebab benih yang disimpan mengalami penurunan kemampuan/daya berkecambahnya. Agar daya kecambah tetap tinggi, maka kadar air benih harus serendah mungkin dalam batas tertentu. Kadar air dalam benih yang rendah juga dapat mengurangi adanya hama ataupun penyakit tular benih.
Dalam proses penyimpanan perlu diketahui jenis benih yang disimpan. Apakah tergolong benih ortodoks atau rekalsitran?. Hal ini penting sebab kedua jenis benih ini memiliki sifat yang berbeda. Benih ortodoks memiliki kadar air rendah dan lebih mudah dalam penyimpanannya dibandingkan dengan benih rekalsitran. Benih ortodoks dapat disimpan dalam wadah, karung, plastik, botol dan sebagainya. Sedangkan benih rekalsitran (kadar air tinggi) dapat disimpan didalam serbuk gergaji atau serbuk arang. Dalam penyimpanan kedua jenis benih ini perlu diperhatikan faktor lingkungan seperti kelembaban, suhu, cahaya dan lain-lain. Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi akan kualitas benih. Kelembaban yang terlalu tinggi akan menyebabkan benih berkecambah. Oleh sebab itu, faktor lingkungan harus dikontrol sedemikian rupa agar benih tidak berkecambah atau mengalami degradasi kualitas benih.
Hal penting yang perlu diketahui terkait benih adalah dormansi. Pada penyimpanan benih mengalami dormansi karena faktor lingkungan yang menghambat benih untuk berkecambah. Namun, pada benih yang secara alamiah mengalami dormansi sulit untuk mengecambahkannya meskipun kondisi lingkungan memenuhi untuk berkecambah. Dormansi adalah kondisi benih hidup yang tidak berkecambah walaupun kondisi lingkungan yang optimum untuk berkecambah. Pertanyaan yang muncuk adalah mengapa benih mengalami dormansi?. Bagaimana benih yang dormansi dapat dipatahkan dormansinya?.
Dormansi benih dapat terjadi karena faktor fisik maupun fisiologi benih. Faktor fisik disebabkan oleh morfologi benih itu sendiri. Sebagai contoh adalah benih memiliki kulit yang keras. Kulit yang keras ini yang menyebabkan imbibisi (masuknya air kedalam sel) terhambat. Padahal untuk berkecambah benih memerlukan air untuk meningkatkan proses metabolisme dan energi. Lapisan kulit yang keras bersifat impermeabel artinya tidak dapat dilalui air. Selain itu, adanya zat penghambat pada benih juga menyebabkan air tidak dapat masuk dan benih sulit berkecambah.
Faktor benih dormansi secara fisiologi antara lain disebabkan karena embrio belum terbentuk sempurna. Benih yang mengalami dormansi ini harus disimpan sampai waktu tertentu. Setiap benih memiliki waktu yang berbeda-beda agar embrio terbentuk sempurna. Contoh benih yang mengalami dormansi fisiologi adalah biji melinjo. Selain embrio yang belum terbentuk sempurna, adanya zat penghambat pertumbuhan dalam biji seperti asam absisat sangat berpengaruh. Keseimbangan hormonal benih harus sesuai. Jika tidak akan menyebabkan ketidakseimbangan yang menyebabkan adanya gangguan fisiologi benih sehingga sulit untuk berkecambah.
Untuk mengatasi dormansi ada beberapa upaya yaitu dengan memperlunak jaringan kulit agar air dapat masuk kedalam benih. Biasanya cara yang dilakukan adalah dengan skarifikasi, air panas dan cara kimia. Skarifikasi dilakukan untuk menipiskan kulit biji dengan menggunakan amplas. Air panas digunakan untuk melunakkan kulit biji. Dengan skarifikasi dan air panas diharapkan air bisa masuk dan merangsang perkecambahan. Pematahan dormansi dengan air panas sudah sering dilakukan masyarakat ketika mau menyemai padi. Tingkat perkecambahan benihnyapun tinggi sekitar 90- 96%. Cara kimia dilakukan dengan merendam dengan asam kuat yaitu H2SO4. pada intinya perkecambahan sangat memerlukan air, sehingga upaya yang dilakukan ketika benih mengalami dormansi adalah cara-cara supaya air bisa masuk yaitu dengan melunakkan jaringan kulit dengan air panas atau cara kimia…